Selasa, 06 Oktober 2015

statistika


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tabel Distribusi Frekuensi (TDF) adalah pengelompokkan data menjadi tabulasi data dengan memakai kelas-kelas dan dikaitkan dengan masing-masing frekuensinya. Tabel distribusi frekuensi dibuat agar data yang telah dikumpulkan dalam jumalah yang sangat banyak dapat disajikan dalam bentuk yang jelas dan baik. Dengan kata lain, tabel distribusi frekuensi dibuat untuk menyederhanakan bentuk dan jumlah data sehingga ketika disajikan kepada para pembaca dapat dengan mudah dipahami atau di nilai. Kelebihan TDF dapat mengetahui gambaran secara menyeluruh . Kurangannya Rincian atau informasi awal menjadi hilang. Pada saat ini tabel distribusi frekuensi sangat membantu dalam menyusun/menggelompokkan data (angka) agar dapat lebih mudah dipahami oleh penggunanya.TDF biasanya digunakan untuk membuat tabel nilai mata pelajaran, berat badan seseorng dll. Pada kali ini saya akan mencoba menbuat tabel distribusi frekuensi dengan menggunakan metode/tahapan menyusun tabel distribusi frekuensi mengenai Berat badan mahasiswa statistika.

Rumusan masalah
1.      Bagaimana tahapan/metode menyusun TDF ?
2.      Tabel frekuensi relative dan frekueinsi kumulatif dalam TDF ?




BAB II
Pembahasan

Data Berat badan dari 30 mahasiswa  Statistika
Nama
Berat Badan (Kg)
Andi
Kurai
Jamet
Ambon
Tata
Ruri
Tomo
Jeni
Isby
Fahri
Tommy
Bowo
Guru
Siska
Panjul
Dekka
DJ
Erni
Wowo
Janah
Cacing
Kilat
Ervanka
Tejo
Mamat
Robi
Basit
Amang
Aminah
Evan
Mimin
Tuti
Ija
Pau
Cita

52
75
67
73
81
63
84
76
50
80
70
65
70
56
74
55
43
48
74
66
80
78
66
83
70
75
85
48
60
84
60
45
51
73
56
 






































Data tersebut merupakan data berat berat badan 30 Mahasiswa Statistika. Utuk membuat Tabel  Distribusi Frekeunsi terlebih dahulu mengurutkan angkanya saja dalam bentuk tabel. Dalam bentuk tabel.

52
75
67
73
81
63
84
76
50
80
70
65
70
65
70
56
74
55
43
48
74
66
80
78
66
83
70
75
85
48
60
45
51
73
56










 Tahapan/metode penyusunan Tabel Distribusi Frekuensi (TDF)

   1.     Tentukan banyak kelas yang diperlukan (k) . Aturan Sturgess
K = 1 + 3,3 log n     ( n : banyaknya keseluruhan data)
            K = 1 + 3,3 log 30
         = 1 + 4,8
          = 5,8  à 6
2.      Tentukan rentang data (R)
R =  Xmaxs - Xmin
         = 85 – 43
         = 42
3.      Bagilah rentang data dengan banyaknya kelas untuk menentukan panjang kelas:
 p = R/k
p = 42/6
          = 7
4.      Tentukan ujung bawah kelas pertama, Pilih data yang paling kecil atau kurang dari yang paling kecil.
Ujung bawah kelas pertama adalah 43

5.      Tentukan batas bawah kelas pertama
      bb = ub – ½ spt
           = 43 – 0,5
            = 42,5          


6.      Tentukan batas atas kelas pertama
ba = bb + p
           = 42,5 + 7
          = 49,5
7.      Tentukan ujung atas kelas pertama
      ua = ba – ½ spt
             = 49,5 – 0.5
             = 49
8.      Daftarkan semua ujung dengan cara menambahkan panjang kelas pada ujung kelas sebelumnya
9.      Tentukan frekuensi bagi masing-masing kelas dengan menggunakan turus atau tally
10.  Jumlahkan kolom frekuensi dan periksa apakah hasilnya sama dengan banyaknya total pengamatan atau keseluruhan data.



Tabel Disrtibusi Frekuensi (TDF)/ Frekuensi Kelas

Interval Kelas
Batas Kelas
Nilai Tengah
Frekuensi
43 – 49
50 – 56
57 – 63
64 – 70
71 – 77
78 – 84
85 --91
42,5 – 49,5
49,5 – 56,5
56,5 -- 63,5
63,5 – 70,5
70,5 – 77,5
77,5 – 84,5
84,5 – 91,5
46
53
60
67
74
81
88
4
6
3
7
7
6
2
Jumlah
35


Nilai Tengah Kelas adalah
      Batas bawah kelas + Batas atas kelas
                                          2
      42,5 + 49,5  = 46
               2
Frekuensi kelas pertama adalah 4


DISTRIBUSI FREKUENSI RELATIF DAN KUMULATIF
·         
  •  Distribusi frekuensi relativE Membandingkan frekuensi masing-masing kelas dengan jumlah frekuensi total dikalikan 100 %
  • Distribusi frekuensi kumulatif ada 2, yaitu distribusi frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari


DISTRIBUSI FREKUENSI RELATIF
Distribusi Frekuensi Relatif Berat Badan 35 Mahasiswa Jurusan Stastistika
Interval Kelas
Batas Kelas
Nilai Tengah
Frekuensi
Frekuensi Relatif (%)
43 – 49
50 – 56
57 – 63
64 – 70
71 – 77
78 – 84
85 --91
42,5 – 49,5
49,5 – 56,5
56,5 -- 63,5
63,5 – 70,5
70,5 – 77,5
77,5 – 84,5
84,5 – 91,5
46
53
60
67
74
81
88
4
6
3
7
7
6
2
11,43
17,14
8.571
20
20
17,14
5,714
Jumlah
35
100













DISTRIBUSI FREKUENSI KUMULATIF KURANG DARI

Distribusi Frekuensi Kumulatif Berat Badan 35 Mahasiswa jurusan Statistika

Interval Kelas
Batas Kelas
Frekuensi Kumulatif Kurang Dari
Persen Kumulatif (%)

43 – 49
50 – 56
57 – 63
64 – 70
71 – 77
78 – 84
85 --91
Kurang dari 42,5
Kurang dari 49,5
Kurang dari 56,5
Kurang dari 63,5
Kurang dari 70,5
      Kurang dari 77,5
Kurang dari 84,5
Kurang dari 91,5

0
4
10
13
20
27
33
35
0
11,43
28,57
37,14
57,14
77,14
94,29
100














Analisis
Dari data yang sudah dikumpulkan kita mulai membuat tabel frekuensi kelas terlebih dahulu yang tediri dari 2 kolom yaitu berat badan dan jumlah frekuensi. Setelah itu kita membuat tabel frekuensi relative yaitu jumlah frekuensi dikalikan 100 %. Kemudian tabel frekuensi kumulatif kurang dari yaitu jumlah frekuensi terus bertambah sesuai dengan jumlah frekuensi di batas-batas kelas tersebut hingga menjadi 35 dan jumlah frekuensi tersebut dikalikan dengan 100% hingga data tersebut mencapai 100%.

Kesimpulan
Dalam membuat tabel distribusi frekuensi diperlukan cara/metode agar diperoleh data yang sesuai dengan syarat tabel distribusi frekunesi. dalam tabel tersebut data(angka )yang sudah ada  dibuat sejelaskan mungkin supaya dapat dimengerti.oleh pemakainya.Dalam tabel distribusi frekuensi menampilkan tabel frekuensi bebas,tabel frekuensi relatif serta tabel distribusi kumulatif kurang dari dan lebih dari (disini yang dibuat hayalah kumulatif kurang dari aja yang lebih dari enggak).

Saran
Tabel distribusi frekuensi  yang saya buat masih ada kekurangan baik aspek penyajian data maupun menyampainnya kepada saudara. Untuk itu saya mengajak saudara untuk memperbaiki dan memperjelas apa yang saya buat. Demikian Yang dapat sajikan mohon diterima apa adanya  :D

















Jumat, 16 Januari 2015

Masyarakat Madani di Indonesia


Mewujudkan Masyarakat Madani di Indonesia

Masyarakat madani dapat didefinisikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya, untuk dapat tata masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya
  • Karakteristik Masyarakat Madani
  1. Masyarakat egaliter, masyarakat egaliter atau masyarakat yang mengemban nilai egalitarianisme yaitu masyarakat yang mengakui adanya kesetaraan dalam posisi di masyarakat dari sisi hak dan kewajiban tanpa memandang suku, keturunan, ras, agama, dan sebagainya.
  2. Penghargaan, bahwa dalam masyarakat madani adanya penghargaan kepada orang berdasarkan prestise, bukan kesukuan, keturunan, ras, dan sebagainya 
  3. Keterbukaan (partisipasi seluru anggota masyarakat aktif), sebagai ciri masyarakat madani adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu benar, kemudian kesediaan untuk mendengarkan pendapat orang lain untuk diambil dan diikuti mana yang terbaik.
  4. Penegakkan hukum dan keadilan, hukum ditegakkan pada siapapun dan kapanpun, walupun terhadap keluarga sendiri, karena manusia sama didepan hukum.
  5. Toleransi dan pluralisme, tak lain adalah wujud civility yaitu sikap kewajiban pribadi dan sosial yang bersedia melihat diri sendiri tidak selalu benar, karena pluralism dan toleransi merupakan wujud dari “ikatan keadaban’ ( Bond of civility), dalam arti masing-masing pribadi dan kelompok dalam lingkunga yang lebih luas, memandang yang lain dengan penghargaaN, betapapun perbedaan yang ada tanpa saling memaksakan kehendak, pendapat atau pandangan sendiri.
  6. Musyawarah dan demokrasi, merupakan unsur asasi pembentukan masyarakat madani. Nur cholis madjid menyatakan, maasyarakat madani merupakan masyarakat demokratis yang terbangun dengan menegakkan musyawarah, karena musywarah merupakan interpretasi positif berbagai individu dalam masyarakat yang saling memberikan hak untuk menyatakan pendapat, dan mengakui adanya kewajiban mendengar pendapat orang lain.

Indonesia memiliki tradisi kuat civil society (masyarakat madani) bahkan jauh sebelum negara bangsa berdiri, masyarakat sipil telah berkembang pesat yang diwakili oleh kiprah beragam organisasi sosial keagamaan dan pergerakan nasional dalam dalam perjuangan merebut kemerdekaan, selain berperan sebagai organisasi perjuangan penegakan HAM dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial, organisasi berbasis islam, seperti Serikat Islam (SI), Nahdlatul Ulama
(NU) dan Muhammadiyah, telah menunjukan kiprahnya sebagai komponen civil society yang penting dalam sejarah perkembangan masyarakat sipil di Indonesia.
Adapun yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan masyarakat madani di Indonesia diantaranya :
1.      Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang belum merata
2.      Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat
3.      Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisis moneter
4.      Tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja yang terbatas
5.      Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang besar
6.      Kondisi sosial politik yang belum pulih pasca reformasi

Terdapat beberapa strategi yang ditawarkan kalangan ahli tentang bagaimana seharusnya bangunan masyarakat madani bisa terwujud di Indonesia yaitu yang
1. Pandangan integrasi nasional dan politik., bahwa sistem demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran dalam hidup berbangsa dan bernegara.
2. Pandangan reformasi sistem politk demokrasi, , yakni pandangan yang menekankan bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah terlalu bergantung pada pembangunan ekonomi, dalam tataran ini, pembangunan institusi politik yang demokratis lebih diutamakan oleh negara dibanding pembangunan ekonomi
3. Membangun masyarakat madani sebagai basis utama pembangunan demokrasi , pandangan ini merupakan paradigma alternatif di antara dua pandangan yang pertama yang dianggap gagal dalam pengembangan demokrasi, berbeda dengan dua pandangan pertama, pandangan ini lebih menekankan proses pendidikan dan penyadaran politik warga negara, khususnya kalangan kelas menengah.

Ketiga model strategi pemberdayaan masyarakat madani tersebut dipertegas oleh Hikam bahwa diera transisi ini harus dipikirkan prioritas prioritas pemberdayaan dengan cara memahami target-target group yang paling strategis serta penciptaan pendekatan-pendekatan yang tepat di dalam proses tersebut. Untuk keperluan itu, maka keterlibatan kaum cendikia, LSM, ormas dan keagamaan dan mahasiswa, mutlak adanya.

Sesuai dengan sila ke 4 nya, maka Pancasila jelas jelas mengakomodasi terbentuknya masyarakat madani. Pancasila mendorong pemerintahan yang demokratis dan melindungi hak-hak asasi manusia. Masyarakat madani dapat diwujudkan bila negara berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan pemerintahan yang demokratis dan melindungi hak hak asasi manusia.

Dari kesimpulan diatas bahwa masyarakat Indonesia mampu mencapai masyarakat madani karena karakteristik masyarakat madani ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Yaitu tercantup pada sila ke 4 yaitu pancasila mendorong pemerintahan yang demokratis , melindungi hak-hak asasi manusia dan toleransi umat beragama.